Kontekstualisasi Penafsiran Al-Qur’an di Panggung Mufassir AIAT

Sleman, NU Online 
Pelokalan Al-Qur’an terjadi pada aspek penfasiran makna. Signifikasi penafsiran lokal oleh para mufassir di Nusantara selama ini adalah dalam rangka menjawab problema yang terjadi di masyarakat.

Demikian disampaikan Ahmad Rafiq saat membuka perbincangan “Panggung Mufassir Nusantara” pada Seminar Nasional dan Annual Meeting Asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir se-Indonesia (AIAT) di STAI Sunan Pandanaran, Jum’at (09/12) malam. Panggung Mufassir yang mengusung tema Kajian Al-Quran dan Tafsir (di)  Nusantara ini menghadirkan narasumber KH Husein Muhammad.

Menurut Kiai Husein, jika kita hanya terfokus pada tekstualitas Al-Qur’an maka yang terjadi hanya pengulangan-pengulangan semata dengan penafsiran sebelumnya. Namun, perlu diingat pula bahwa kontekstualisasi tafsir, dalam rangka merespon dinamika zaman, harus dengan membawa misi rahmatan lil alamin.

“Di abad modern ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan terjemahan tekstual sebagai pedoman mutlak. Sebab, teks atau Al-Qur’an turun dalam konteks dan kedaan tertentu, baik sosial, ekonomi,  maupun politik. Karenanya, menjadi penting untuk diperhatikan pula berbagai konteks pada masa turunnya Al-Qur’an tersebut untuk mendapat pesan nilai-nilai rahmatan lil alamin”, kata pengasuh Pesantren Darut Tauhid, Cirebon kepada sedikitnya dua ratus peserta yang hadir.

Sementara, narasumber lain, Sahiron Syamsuddin mengatakan, pada era penafsiran klasik banyak sekali potret Al-Qur’an yang membumi. Jika ingin penafsiran berkembang maka kita perlu berinteraksi dengan Al-Qur’an, dalam arti menyelami berbagai konteks yang meliputi proses pewahyuan untuk kemudian menangkap pesan rahmatan lil alamin darinya. Sehingga, jika demikian Al-Qur’an itu akan menyinari era kontemporer.

“Sebab Al-Qur’an terlalu besar bila hanya diterjemahkan per kata. Sebaik apa pun terjemahan Al-Qur’an tetap saja tidak bisa dijadikan landasan. Karena terjemahan Al-Qur’an belum bisa menangkap maghza, yang itu hanya bisa ditangkap melalui proses penafsiran yang cukup panjang”, jelas Ketua AIAT ini.

(Anwar Kurniawan/Abdullah Alawi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *