Meresonansi Tafsir al-Qur’an (di) Nusantara

SEJARAH Islam di Indonesia sudah berjalan sangat lama. Islam di Nusantara mengalami perjalanan panjang yang penuh dinamika. Sejalan dengan ini, sejarah intelektual Islam ikut mencatatkan diri dengan berbagai peran yang dimainkan dalam membentuk Islam di Indonesia. Yang hadir dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural.

Para ulama dengan berbagai karya intelektualnya berhasil ‘membumikan’ Islam kepada masyarakat terpelajar maupun awam. Baik melalui karya-karya sendiri maupun penerjemahan dari kitab kuning dengan memanfaatkan pengetahuan dan bahasa lokal yang memiliki keunikannya sendiri. Penggunaan aksara Arab Melayu atau aksara pegon dalam karya atau kitab terjemahan, misalnya, menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah Islam Indonesia yang unik dibandingkan dengan negara lainnya.

Teks Klasik

Tahun 1995 Martin van Bruinessen menyebut lebih dari 500 judul kitab yang isinya beraneka ragam: terjemahan, syarah dan hasyiyah yang canggih terhadap teks klasik yang ditulis ulama dari pesantren-pesantren tradisional. Ada 200- an karya ditulis dengan Bahasa Melayu dan 150-an menggunakan Bahasa Jawa, sisanya menggunakan Bahasa Arab.

Karya-karya tersebut sebagian dikaji dan disampaikan kepada khalayak dalam berbagai forum. Untuk sekian waktu berhasil menggemakan gaung pemikiran ulama Nusantara. Pengajaran kitab-kitab tafsir Alquran yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan atau aksara lokal di berbagai kesempatan dan forum-forum kecil di kampung seperti pengajian di musala, masjid, majelis taklim, pesantren kecil membuktikan peran yang tidak kecil dari khazanah pesantren dalam membangun masyarakat.

Seperti Tafsir al-Ibriz karya ulama kharismatik KH Bisri Musthofa atau Tafsir al-Iklil karya KH Mishbah Musthofa. Karya ini dikenal jemaah pengajian kampung melalui kiai-kiai kampung karena kekhasan metodenya yang sangat ‘merakyat’. Menggunakan makna antarbaris (gandhul) dan berbahasa Jawa dengan aksara pegon.

Kajian awal tentang tafsir Nusantara dilakukan oleh sarjana-sarjana Barat seperti Snouck Hurgronje, Howard M Federspiel, L. Anthony H Johns, Peter G Riddel. Mengambil subjek dan objek kajiannya masing-masing, para sarjana Barat ini memberikan informasi penting mengenai pertumbuhan dan perkembangan tulisan dan kitab yang ditulis para ulama dan pengkaji Alquran di wilayah Indonesia. Baik sebelum maupun setelah masa kemerdekaan.

Dengan tulisan para sarjana ini kita mengetahui nama-nama ahli tafsir Indonesia. Abdur Rauf Singkel yang menulis tafsir Tarjuman alMustafid, KH Shaleh Darat yang menulis Faydl al-Rahman dan konon merupakan guru dari dua pendiri organisasi muslim terbesar di Indonesia: KH Hasyim Asy’ari pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Pengkaji-pengkaji tafsir Alquran di Indonesia yang lain seperti Islah Gusmian dan Jajang A Rohmana memperkaya informasi tentang kitab-kitab tafsir Alquran di Nusantara khususnya yang menggunakan bahasabahasa lokal seperti Bahasa Jawa dan Sunda.

Sangat Dinamis

Karya-karya tafsir di Indonesia berkembang sangat dinamis. Kini nama-nama kitab tafsir seperti al-Azhar karya Hamka, al-Mishbah karya M Quraish Shihab – untuk sekadar menyebut contoh – tidak asing di masyarakat. Terlepas dari dinamika luar biasa terkait kitab-kitab tafsir yang terbit dengan menggunakan Bahasa Indonesia, perhatian kepada khazanah tafsir ber-bahasa lokal sangat penting dengan berbagai alasan.

Pertama, mengingatkan kepada masyarakat bahwa negara kita memiliki ulama dengan karya-karya yang luar biasa dan perlu dikenal oleh masyarakat Islam setidaknya di Indonesia. Syukur-syukur bisa mengangkat nama-nama penulis kitab-kitab tafsir Indonesia ke reputasi yang lebih luas.

Kedua, pentingnya memahami metode dan gagasan para ulama dalam membumikan ajaran atau nilai-nilai Alquran yang tidak mengesampingkan pendekatan sosial budaya dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Alih-alih menghilangkan warisan budaya intelektualisme Islam Nusantara, kajian terhadap karya-karya mereka diharapkan bisa merevitalisasi karya anak bangsa menjadi bagian dari sejarah besar Indonesia.

Akhirnya, apa pun upaya yang dilakukan untuk mengangkat karya-karya ulama di Indonesia adalah bagian dari gerakan menolak-lupa. Terutama terhadap para ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ yang telah ikut ambil bagian dalam sejarah Islam Nusantara.

(Dr Ahmad Baidowi. Pengurus Harian Asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir se-Indonesia dan Pengajar di Fak Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 9 Desember 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *