16 Apr 2020
Tafsir Surat An-Nashr 1-3: Pertolongan Allah di Masa Pandemi
Pengguna

Pandemi yang melanda hampir di tiap negara ini sangat merugikan semua pihak. Pandemi bisa diibaratkan suatu peperangan. Kita yakin pandemi ini suatu saat akan berhenti, tapi banyaknnya korban berguguran tidak akan diketahui jumlahnya. Yang terpenting saat ini adalah semua elemen masyarakat terus bekerja keras untuk menghentikan arus pandemi ini.

Pertolongan Allah pasti akan datang di masa pandemi ini. Sebagaimana dalam al-Quran terdapat surat An-Nashr yang berarti sebuah pertolongan. Surat tersebut berisikan 3 ayat yang berbunyi:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (۱) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (۲) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (۳)

Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.”

Tema dari surat ini adalah kabar gembira terkait pembebasan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan banyaknya masyarakat yang masuk Islam saat itu. Banyak perbedaan pendapat terkait surat ini diturunkan. Ada yang berpendapat setelah perang Khaibar, sebelum Nabi SAW wafat, dan yang paling populer adalah ketika setelah pembebasan kota Mekah.

Lafazh nashr (نصر) berartikan suatu pertolongan dalam suatu kejadian, dan penisbatan lafazh tersebut kepada Allah, mengisyaratkan bahwa pertolongan tersebut datang dari Allah. Juga berarti bahwa pertolongan tersebut sangatlah besar. Hal tersebut didasarkan pada bunyi lafazh selanjutnya yakni fath (فتح).

Lafazh fath merupakan derivasi dari fataha yang berarti pembukaan. Kemudian berubah menjadi kemenangan, karena pada dasarnya kemenangan adalah perjuangan dalam menghadapi sesuatu yang tertutup. Menurut Syeikh Nawawi al-Bantani, kata tersebut menandakan suatu peristiwa yakni pembukaan/pembebasan kota Mekah.

Kota Mekah berhasil dibebaskan oleh kaum muslimin pada bulan Ramadhan tahun ke-8 Hijrah (Desember 630 M). Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang penting dan memiliki dampak besar bagi kejayaan Islam, karena banyak orang-orang berbondong-bondong untuk masuk Islam sebagaimana tertera dalam ayat kedua surat tersebut.

Dalam kajian Ulumul Quran terkenal sebuah kaidah yang berbunyi :

العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ

“Pelajaran diambil dari kekhususan sebab bukan keumuman lafadz”

Kaidah tersebut sangat cocok untuk diterapkan pada surat ini. Sehingga kita dapat mengkontekstualisasikan surat ini dengan masa sekarang. Jika dikontekstualisasikan maka surat ini merupakan suatu bisyaroh atau kabar gembira di masa pandemi yang sulit ini. Ya, pasti akan datang pertolongan Allah yang dapat menghentikan arus dari pandemi.

Sayyid Quthb berkomentar bahwa surat ini merupakan tanda adanya pertolongan Allah dalam suatu peristiwa yang belum terjadi ataupun sudah terjadi. Pertolongan tersebut ditentukan oleh Allah dalam bentuk dan rancangan yang dikehendaki oleh-Nya. Termasuk saat pandemi ini, pertolongan Allah itu sangat nyata dalam bentuk apapun.

Lalu apabila pertolongan itu datang, apa yang harus dilakukan oleh seorang muslim? Ayat terakhir dalam surat tersebut menjadi jawabannya. Ya, kita harus senantiasa bertasbih memuji kepada Allah. Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa tasbih bukan saja menjauhkan kekurangan dari zat, sifat, dan perbuatan Allah SWT akan tetapi juga kesempurnaan yang digambarkan oleh manusia itu sendiri.

Ibnu Asyur berpendapat bahwa perintah untuk bertasbih ini merupakan suatu tanda bahwa pertolongan Allah itu sangatlah besar dan menakjubkan. Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa kalimat yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Saw. dalam bertasbih adalah Subhanallah wabihamdihii astaghfirullah wa atuubu ilaihi.

Masa pandemi memang masa yang sulit bagi siapapun. Namun bukan berarti kita harus berputus asa dalam menghadapinya. Pertolongan Allah sangatlah nyata dalam bentuk apapun. Kita harus bekerja sama dalam bentuk jaga kebersihan, jaga jarak, jauhi keramaian, dan lain-lain. Dan yang terpenting kita harus senantiasa bertasbih dan beristighfar kepada Allah Swt. Semoga masa pandemi ini cepat berakhir. (AN)

Wallahu a’lam bish-showab.

 

Referensi:

Tafsir al-Misbah karya Prof. M. Quraisy Shihab

Tafisr Jalalain karya Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuthi

Tafsir Marah Labid karya Syeikh Nawawi al-Bantani.

 

Penulis:

Ganjar Mutaqin, mahasiswa Tafsir di UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Video Kami

Lokasi


Alamat

Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir (AIAT) se-Indonesia
Krapyak Kulon RT. 07 Panggungharjo Sewon Bantul Yogyakarta


Email: info@aiat.or.id / aiat.indonesia@gmail.com

No. Rekening

Bank Rakyat Indonesia (BRI)
No. Rek 1753-01-006666-50-9

Tentang Kami

Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir (AIAT) se-Indonesia adalah rumah bersama untuk mengabdikan diri untuk kemajuan bersama, perkembangan keilmuan dalam bidang Alquran dan Tafsir, dan peningakatan peradaban di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).