Event

Asiosiasi Tafsir Alquran Ungkap Urgensi Evaluasi Terjemahan

130 0 9 Juli 2019
Penulis
Tidak ada bio

Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir se-Indonesia (AIAT) menyatakan pentingnya evaluasi terjemahan Alquran. Penerjemahan Alquran kedalam bahasa apapun pasti tidak sempurna. 

Ketua AIAT, KH Sahiron Syamsuddin, mengatakan Alquran diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, dan bahasa bangsa lain pun tetap tidak akan bisa sempurna.

"Supaya penerjemahan Alquran yang berbahasa Indonesia menjadi lebih sempurna, lebih mendekati makna-makna asli bahasa Arab dalam Alquran dari setiap ayat, maka perlu pengecekan ulang agar kosakata terjemahannya lebih tepat," kata KH Sahiron kepada Republika.co.id, Kamis (4/7).

Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga itu menjelaskan, penyempurnaan terjemahan penting dilakukan agar kosakata yang digunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia lebih mendekati makna sebenarnya bahasa Arab yang ada dalam Alquran. Meski pun hasilnya tetap tidak akan sempurna, tapi akan lebih mendekati sempurna dan lebih baik dari terjemahan sebelumnya. 

Dia mengatakan, di sinilah posisi strategis Ijtima Ulama Alquran Nasional yang dihelat Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kementerian Agama (Kemenag). Intinya dalam rangka menyempurnakan terjemahan Alquran dalam bahasa Indonesia. Supaya lebih mendekati makna sebenarnya dari bahasa Arab yang ada dalam Alquran.  

Selain itu, Sahiron menerangkan tata bahasa Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun. Artinya terjemahan Alquran dalam bahas Indonesia pada tahun sebelumnya menggunakan tata bahasa Indonesia pada masa itu.

"Sekarang dilakukan revisi, dilakukan perbaikan sehingga tata bahasa terjemahan Alquran sesuai dengan aturan tata bahasa Indonesia saat ini," ujarnya.

Dia mencontohkan surah al-Bayyinah ayat kelima yang artinya, mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama. Kalimat mukhlishiina lahuddiina dalam ayat tersebut diterjemahkan menjadi kata ikhlas. 

Menurut dia, seharusnya kata ikhlas menjadi dengan memurnikan penyembahannya hanya kepada Allah. Maksudnya hanya Allah yang disembah dan tidak syirik. Tapi masih banyak terjemahan Alquran yang menggunakan kata ikhlas, padahal akan lebih mendekati makna sebenarnya jika diganti dengan memurnikan penyembahannya hanya kepada Allah. 

"Jadi penyempurnaan terjemahan Alquran harus terus dilakukan dari masa ke masa sampai kemudian kosakata bahasa Indonesia yang kita tampilkan dalam terjemahan Alquran lebih mendekati dengan makna yang dimaksud (Alquran)," jelasnya.       

Sebelumnya, Kepala LPMQ Balitbang dan Diklat Kemenag, Muchlis M Hanafi, mengatakan akan ada dua agenda besar yang dibahas pada Ijtima Ulama Alquran Tingkat Nasional. Pertama, seminar penerjemahan Alquran. Seminar tersebut akan mendiskusikan kajian seputar penerjemahan Alquran dan hal-hal yang terkait dengan upaya penerjemahan Alquran. 

“Agenda kedua adalah pembahasan terjemahan Alquran Kementerian Agama Edisi Penyempurnaan juz 21 sampai juz 30, ini merupakan kelanjutan dari Mukernas Ulama Alquran tahun 2018 yang telah membahas juz 1 sampai juz 20, penyempurnaan terjemah Alquran merupakan rekomendasi dari Mukernas Ulama Alquran tahun 2015," kata Muchlis melalui keterangan tertulis kepada Republika.co.id, Selasa (2/7). 

Dia menjelaskan bahwa ada beberapa aspek yang disempurnakan di antaranya aspek bahasa, substansi atau makna, dan konsistensi. Ijtima Ulama Alquran Tingkat Nasional akan diikuti 110 peserta. 

Mereka terdiri dari para ulama, akademisi dan pemerhati kajian tafsir serta ilmu Alquran dari unsur Kemenag dan MUI. Kemudian ada dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Dosen Perguruan Tinggi Islam, Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren, Asosiasi Ilmu Alquran, dan Pusat Studi Alquran.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/pu3unk320/asiosiasi-tafsir-alquran-ungkap-urgensi-evaluasi-terjemahan

Komentar (0)

Tidak ada komentar