Tafsir

Islam, Agama Moderat

1114 0 16 Desember 2023
ADMINISTRATOR
Tidak ada bio


            Salah satu program pemerintah saat ini adalah penguatan moderasi beragama. Program ini telah dan terus diadakan dengan tujuan mencipatakan masyarakat Indonesia yang  saling bertoleransi terhadap perbedaan agama, suku, Bahasa dan lain sebagainya, hidup berdampingan secara damai dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat. Program ini harus kita dukung dengan melaksanakan peran kita masing-masing, sehingga pemerintah berhasil dalam menciptakan masyarakat yang penuh kemaslahatan. Dengan artikel ini, penulis berkehendak untuk memberikan kontribusi pemikiran tentang Islam sebagai agama yang moderat.

            Ditinjau dari sisi ajaran, Islam adalah agama yang moderat, yakni agama yang mengajarkan umatnya untuk berprilaku yang memperhatikan hak-hak diri, hak-hak orang lain, dan alam sekitarnya. Tak satupun ajaran Islam yang mengandung kezaliman terhadap diri, orang lain dan alam semesta. Hal ini dapat dilihat, misalnya, dalam Q.S. al-A‘raf (7): 56: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan.” Kemoderatan agama Islam itu juga terlihat dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim. Dalam hadis ini disebutkan bahwa Anas ibn Malik bercerita bahwa tiga kelompok sahabat Nabi Saw bersilaturrahim kepada beliau. Mereka kemudian ditemui oleh istri beliau. Para sahabat tadi lalu bertanya tentang ibadah Nabi Saw. Dijawablah petanyaan tersebut oleh istri beliau dengan panjang lebar. Mendengar jawaban tersebut, mereka berkata, “Di manakah posisi kami bila dibandingkan dengan Rasulullah? Beliau sangat rajin beribadah padahal semua kekhilafannya, baik yang telah berlalu maupun yang akan datang, telah diampuni oleh Allah SWT.” Salah satu di antara mereka berkata, “Mulai hari ini saya akan shalat malam dan tidak tidur.” Sahabat lain berkata, “Mulai saat ini saya akan berpuasa sepanjang tahun (kecuali pada hari-hari yang diharankan berpuasa).” Sahabat yang lain lagi mengatakan, “Saya akan menjauhkan diri dari kaum wanita dan tidak akan menikah (artinya, semua waktu digunakan untuk shalat, puasa, berzikir dll.).” Tidak lama kemudian datanglah Rasulullah seraya bersabda, “Sungguh saya telah mendengar semua yang  kalian katakana. Ketahuilah, wahai para sahabatku, sesungguhnya saya adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian kepada Allah. Saya juga orang yang paling takut terhadap siksaan Allah. Namun, saya ini melakukan shalat malam, tetapi juga tidur, karena mata itu memiliki haknya. Saya berpuasa hari ini dan besok berbuka (tidak berpuasa), karena badan itu memiliki haknya yang harus dipenuhi, dan saya juga menikahi wanita-wanita. Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku (yakni sikap moderat), maka dia bukan dari golonganku.” Membaca cerita ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad Saw mengajarkan umatnya untuk beragama dan berprilaku secara moderat, tidak ekstrem, yakni dengan cara memperhatikan hak-hak yang ada. Berdasarkan hadis tersebut di atas, al-Imam Fakhr al-Din al-Razi (Mafatih al-Ghayb, 1: 258), ketika menafsirkan kata al-shirath al-mustaqim (jalan yang lurus) dari Q.S. al-Fatihah: 6: “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus!”, dia mengatakan bahwa kata tersebut berarti ‘garis/jalan tengah antara sikap berlebihan dan sikap sembrono dalam berprilaku’.

            Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa agama Islam adalah agama yang moderat sejak diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Meskipun demikian, sebagian umat Islam bisa saja tidak moderat dalam berprilaku. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, misalnya ketidakpahaman atau kesalahpahaman terhadap teks-teks keagamaan, faktor politik, faktor sosial, faktor ekonomi dan lain-lain. Penulis berharap, semoga saudara-saudara yang tidak moderat dalam berprilaku dapat kembali ke ajaran Islam yang sejati, yang sebenarnya. Dari kajian singkat ini, penulis juga ingin mengatakan bahwa program pemerintah terkait penguatan moderasi beragama sangat sesuai dengan Islam. 


Penulis: Sahiron Syamsuddin (UIN Sunan Kalijaga)

Terbit di KR, Jumat 15 Desember 2023

Komentar (0)

Tidak ada komentar