Teladan

Guru Mulia Yang Memuliakan Murid-muridnya: Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo, MA.

171 0 25 Juli 2021
Rasyid Ridho
Tidak ada bio
oleh: Andi Rahman
*) Dosen Prodi IAT PTIQ Jakarta dan Pengurus AIAT se-Indonesia

Benar-benar mengagetkan, bahwa Prof. Huzaemah wafat. Ada banyak kesedihan dan rasa kehilangan terhadap tokoh yang di kalangan akademisi dikenal sebagai guru besar berdedikasi tinggi yang telah melahirkan banyak doktor, dan ulama yang mana puluhan atau bahkan ratusan muridnya telah menjadi pengasuh pesantren. Rekognisi yang tinggi beliau miliki sebagai ulama perempuan yang memiliki keilmuan ensiklopedis.

Tentunya, tidak perlu saya paparkan betapa banyak jabatan dan amanah publik yang beliau emban. Ada banyak testimonial dari pejabat publik hingga tokoh nasional, kiranya bisa memberikan gambaran hal tersebut. Saya ingin menuliskan kesan pribadi sebagai orang yang pernah mengenal dan belajar dari beliau.

Beliau merupakan sosok guru dan dosen dengan keilmuan yang mumpuni, memiliki sifat tegas dan empati yang sangat tinggi. Di perkuliahan, semua pertanyaan dijawab beliau dengan dasar argumentasi yang kuat. Memang, karakteristik ulama yang menjadi alumni al-Azhar adalah keilmuan yang ensiklopedis. Beliau merupakan pakar fiqh, dan di waktu yang sama beliau juga memahami tafsir, hadis, balaghah, dan disiplin ilmu keislaman lainnya. Kalau Nahwu dan Sharf atau kaedah bahasa Arab lainnya? Sudah pasti mahir. Belajar di kelas perkuliahan, bisa dianggap mirip dengan diskusi komisi fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia), di mana beliau adalah representasi para ulama, dan semua mahasiswa menjadi notulen hasil diskusinya dan mengetik lembaran fatwa tersebut.

Walaupun memiliki basis keilmuan fiqh perbandingan yang penuh dengan perbedaan pendapat ijtihadi, di mata saya beliau merupakan sosok yang berpendirian kaku dan sangat tegas. Mahasiswa bisa saja menyampaikan pendapat fiqh dengan mengutip kitab tertentu, namun kalau ia tidak bisa memaparkan argumentasinya dengan benar, beliau akan mematahkan dan menolak pendapat itu. Saya melihat, beliau menginginkan mahasiswa bertanggung jawab saat menyampaikan pendapat fiqh, bukan asal kutip. Ketika mahasiswa bisa menyampaikan pendapatnya dengan baik, beliau akan memberikan apresiasi. Saya pernah diuji secara personal (ujian komprehensif mata kuliah) oleh beliau, dan saya merasa diperlakukan bagaikan kolega di komisi fatwa MUI. Beliau sangat mengapresiasi murid dan mahasiswanya bukan sebagai orang awam yang hanya bisa diberikan keputusan fiqh, tetapi sebagai calon ulama yang bertanggung jawab secara ilmiah di masa yang akan datang.

Setelah wisuda, saya banyak bertemu beliau dalam forum resmi maupun tidak resmi. Beliau masih ingat nama, dan menyapa dengan saya dengan panggilan yang penuh penghargaan. Sesekali beliau bercanda. Saya masih muda, dan diperlakukan dengan sangat baik oleh orang tua yang memiliki kharisma tinggi. Saya sangat berbahagia, dan merasa sangat dihargai. Saya adalah satu dari ribuan murid dan mahasiswa yang memiliki kesan yang sama yaitu diperlakukan dengan sangat baik oleh beliau. Kami semua berbahagia.

Pandemi memang telah merenggut ribuan nyawa ulama, salah satunya Prof. Huzaemah Tahido Yanggo, seorang dosen yang sangat disayangi oleh murid-murid dan mahasiswa-mahasiswanya. Beliau sekarang pasti berbahagia di alam Barzakh, dan akan sangat berbahagia di Akhirat. Beliau adalah inspirasi yang tidak akan padam, khususnya bagi santri dan mahasiswa perempuan yang ingin menjadi ulama. Ilmu beliau akan yuntafa’ bih, dan kebaikan beliau akan mengalirkan pahala yang tidak terputus hingga Kiamat. Rabbuna yarhamuha wa yanfa’una bi ‘ulumiha.

Komentar (0)

Tidak ada komentar